PENGUNJUNG YANG TERHORMAT

PENGUNJUNG YANG TERHORMAT

Minggu, 13 Agustus 2017

PROPOSAL USAHA JAMUR

Proposal usaha jamur adalah bagian yang juga penting diketahui oleh petani jamur di indonesia. Dalam hal ini saya akan mengulas mengenai usaha budidaya jamur tiram putih. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur kayu yang sangat baik untuk dikonsumsi manusia. Selain karena memiliki rasa yang enak, jamur tiram juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Di dalam Jamur tiram terkandung protein sebanyak 19 – 35 % dari berat kering jamur, dan karbohidrat sebanyak 46,6 – 81,8 %. Selain itu jamur tiram mengandung tiamin atau vit. B1, riboflavin atau vit. B2, niasin, biotin serta beberapa garam mineral dari unsur-unsur Ca, P, Fe, Na, dan K dalam komposisi yang seimbang. Bila dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun karbohidratnya 0,0 gram, maka kandungan gizi jamur masih lebih komplit sehingga tidak salah apabila dikatakan jamur merupakan bahan pangan masa depan umat manusia.
Selain bermanfaat dari sisi penyedia bahan pangan, jamur tiram juga bermanfaat dalam pengobatan, diantaranya :
• Dapat menurunkan tingkat kolesterol dalam darah.
• Memiliki kandungan serat mulai 7,4 % sampai 24,6% yang sangat baik bagi pencernaan.
• Dan yang tidak kalah penting bisa juga untuk antitumor dan antioksidan.
Jamur tiram tumbuh pada serbuk kayu, khususnya yang memiliki serat lunak seperti jenis kayu albasiah. Tetapi untuk daerah sumatera banyak petani menggunakan serbuk kayu karet karena banyk terdapat kebun karet yang ditang kayunya apabila sudah tidak produktif lagi guna peremajaan. Selain itu, bisa juga ditumbuhkan pada jerami padi, limbah kapas, limbah tebu, limbah sawit, daun-daunan, dll, yang memiliki kandungan serat. Suhu optimum untuk pertumbuhan tubuh buah jamur tiram adalah 20 – 28C, dengan kelembaban 80 – 90 %. Pertumbuhan jamur tiram tetap membutuhkan cahaya matahari tidak langsung, sirkulasi udara yang baik, dan tempat yang bersih.
LATAR BELAKANG
Latar belakang pengembangan usaha budidaya jamur tiram ini diantaranya :
1. Budidaya jamur tiram memiliki peluang bisnis yang baik. Permintaan pasar yang tinggi serta ruang lingkup usaha yang terus berkembang ke berbagai daerah di Indonesia, memudahkan para pembudidaya memasarkan hasil produksi jamur tiram.
2. Tantangan akan ketersediaan pangan sehat bergizi dengan kuantitas yang banyak, terjangkau berbagai kalangan, serta berkesinambungan mampu dijawab salah satunya melalui budidaya jamur ini.
3. Sistem budidaya jamur yang bisa dilakukan secara vertikal (model rak) menjadi kelebihan utama dibandingkan budidaya sayuran lainnya karena mampu menghemat lahan secara signifikan.
4. Jamur tiram merupakan salah satu produk komersial pertanian yang dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan termasuk mudah diperoleh seperti serbuk gergajian kayu, dedak dan kapur, sementara proses budidaya sendiri tidak membutuhkan berbagai pestisida atau bahan kimia lainnya.
5. Alat atau sarana produksi murah,seperti cangkul,ember,spatula,plastik dan untuk sterilisasi media bisa menggunakan bahan bekas seperti drum bekas.
6. Sub usaha yang beragam mulai dari usaha pembuatan bibit jamur, usaha budidaya jamur dan kuliner jamur (hulu ke hilir), pengepul dan pedagang jamur, sehingga  dapat membuka banyak peluang serapan tenaga kerja terutama bagi masyarakat daerah sekitar pertanian jamur tiram.
VISI
Menjadikan industri jamur tiram sebagai bisnis yang  bersinergi dengan masyarakat petani jamur melalui model usaha dari hulu ke hilir.
MISI
1. Mengembangkan sistem usaha yang kokoh sehingga terjalin kerjasama saling menguntungkan antara pengelola usaha dan mitra usaha.
2. Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar baik sebagai karyawan tetap maupun pekerjaan tambahan.
3. Membantu meningkatkan taraf hidup petani dengan menghasilkan bibit jamur berkualitas baik
4. Membangun pusat pelatihan dan pendampingan bagi petani jamur maupun masyarakat umum, di Bandar lampung dan di Indonesia pada umumnya.
5. Membentuk plasma-plasma tani dan asosiasi petani jamur sehingga mampu pengoptimalkan produk yang dihasilkan baik dari segi harga maupun ketersediaan hasil produksi.
6. Memperkenalkan jamur tiram secara luas kepada masyarakat melalui pendekatan produk-produk olahan.
MODEL USAHA
Usaha jamur tiram dibagi menjadi 3 inti usaha yaitu
1. Produksi bibit jamur (usaha hulu),
2. budidaya jamur, dan
3. olahan jamur (usaha hilir).
Dengan menjalankan ketiganya secara terintegrasi diharapkan dapat tercapai industri jamur yang kokoh dan berkesinambungan. 
PROSPEK PASAR
Peluang untuk membudidayakan jamur tiram di Indonesia terbuka lebar. Hal ini tidak terlepas dari tingginya permintaan pasar dalam negeri dan luar negeri yang meningkat dari waktu ke waktu.
1. Permintaan jamur tiram di daerah Bandar Lampung dan sekitarnya mencapai 1.000 -1500 kg /hari. Adapun produksi jamur tiram di bandar Lampung baru dikisaran  mencapai 700kg – 1 ton /hari, sedangkan jumlah ini masih harus dibagi ke beberapa kota lain seperti pringsewu,hanura,sidomulyo dll.
2. Pasar jamur tiram saat ini telah meluas di sekitar lahat, dan palembang sehingga diperlukan produksi jamur tiram dalam skala besar.
3. Perkembangan usaha jamur yang semula terkonsentrasi di pulau jawa mulai menyebar ke seluruh Indonesia terutama Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
4. Produk olahan jamur masih sangat jarang ditemui bahkan di kota kota besar sekalipun. Sebagai contoh di Bandar lampung yang banyak wisata kuliner saja, kuliner jamur masih sangat minim.
PROYEKSI PENGEMBANGAN USAHA
Usaha ini digolongkan sebagai usaha kecil menurut banyak pakar dan pengamat ekonomi, namun usaha tersebut dipandang sebagai tulang punggung dalam salah satu pemulihan ekonomi Indonesia. Untuk itu pengembangan budidaya jamur ini akan dibagi dalam tiga tahap, yaitu: tahap industri kecil awal, tahap industri kecil lanjut, dan tahap industri menengah. Penjelasan mengenai ketiga tahap industri tersebut adalah sebagai berikut :
Tahap Industri Kecil
1. Tahap ini merupakan langkah awal menuju terbentuknya industri padat karya yang kuat dan kokoh
2. Menerapkan standar produksi yang tepat untuk mengoptimalkan hasil budidaya jamur
3. Penambahan tenaga kerja
Tahap industri kecil awal ini merupakan jembatan menuju berdirinya industri kecil yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Investasi untuk tahap industri kecil awal antara 300 juta hingga 1 milyar rupiah.
Tahap Industri Kecil Lanjut
Tahap ini merupakan pengembangan dari tahap industri kecil awal. Pada tahap inilah model usaha dari hulu ke hilir mulai dibangun. Pembangunan difokuskan pada 3 inti usaha yaitu
1. Pembuatan pusat produksi bibit (Laboratorium bibit)
2. Perluasan kapasitas produksi dan budidaya jamur
3. Pembuatan rumah produksi kuliner dan turunannya (booth, gerai kuliner)
Industri ini diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari pekerja kasar di bagian produksi hingga profesional di bagian laboratorium, pemasaran, R & D dan administrasi. Investasi yang dibutuhkan untuk tahap industri kecil lanjut ini berkisar antara 1 milyar hingga 3 milyar rupiah.
Tahap Industri Menengah Nasional
Secara umum, tahap industri menengah adalah perluasan dari industri kecil, mulai dari sistem, kapasitas produksi hingga ekspansi distribusinya. Tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan ekspor. Tahap ini diharapkan mampu menyerap sedikitnya 100 tenaga kerja. Investasi yang diperlukan masih dalam analisis.
Lokasi usaha : Bandar Lampung.

Jumat, 12 Februari 2016

BIBIT JAMUR TIRAM UNTUK ANDA

CARA ORDER BIBIT F0, F1, F2, JAMUR TIRAM PUTIH, UNTUK MEMULAI USAHA BUDIDAYA JAMUR.





Silahkan anda hubungi saya di 085768422115,  dengan senang hati saya akan merespon sms anda.


  • Oya Harga Bibit Jamur F2 Rp.7000.- / botol 
  • Setiap pembelian 10 botol gratis 1 botol, berlaku kelipatannya.
  • Ayo jangan siasiakan kesempatan ini.
  • Hanya ada di sini...

Senin, 01 Agustus 2011

CARA MEMBUAT BAGLOG JAMUR TIRAM

CARA MEMBUAT BAGLOG atau MEDIA TANAM atau BIBIT SEMAI.
Langkah kerja untuk membuat baglog / media tanam adalah :

1. Pek. mencampur bahan-bahan.
2. Pek. pengkomposan.
3. Pek. pewadahan.
4. Pek. sterilisasi.
5. Pek. pendinginan.
6. Pek. inokulasi.
7. Pek. inkubasi.

Persiapkan bahan-bahan antara lain :

* Bibit jamur F2 / bibit induk.
* Serbuk kayu, Dedak, kapur dolomite
* Plastik jenis PP, karet gelang, tali rapia, cincin log.
* Alkohol dan spirtus.

Persiapkan alat-alat kerja :

* cangkul, singkup, ayakan pasir, ember, drum plastik dan alat angkut.
* Alat sterilisasi yang terbuat dari bahan drum bekas dan semawar gas komplit dengan tabung gas.
* Tempat api, spray, sendok kecil.

Persiapkan tempat / bangunan :

* Bangunan / area untuk menyimpan bahan-bahan..
* Bangunan / area untuk mencampur bahan-bahan, pengkomposan dan pewadahan.
* Bangunan / area untuk sterilisasi.
* Bangunan / area untuk pendinginan dan inokulasi.
* Bangunan / area untuk inkubasi.


Ayak terlebih dahulu serbuk kayu, buang sampah berupa potongan kayu dan tanah.
Timbang serbuk kayu yg sdh diayak, misalkan 100 kg.
Buat komposisi adonan atau campuran bahan :

1. Serbuk kayu 100 kg.
2. Dedak 20 % x 100 kg = 20 kg.
3. kapur dolomite 2% x 100 kg = 2kg

Campur dan aduk ke 3 bahan tersebut menjadi satu kesatuan yang kokoh (homogen).
Tambahkan air sedikit demi sedikit, kemudian aduk berulang - ulang.

Cek / kontrol :

Kadar air yang terkandung dengan cara ambil adonan tsb kepal erat erat pakai tangan, perhatikan jangan sampai ada tetesan air dan bila tangan dibuka adonan masih berbentuk kepalan dan mudah untuk dihancurkan, artinya adonan sdh bagus kandungan kadar airnya.

Pek. pewadahan
Langkah selanjutnya adalah pekerjaan pewadahan, yaitu memasukkan adonan kedalam kantong plastik dan ditumbuk pakai botol atau untuk hasil yg lebih padat dan seragam dianjurkan memakai alat press log, dan kemudian bagian atas plastik ikat pakai tali rapia.

Bila hasil pewadahan sdh banyak, maka lakukkan pekerjaan sterilisasi menggunakan alat yang paling sederhana adalah drum bekas (konsepnya adalah seperti mengkukus).

Pada waktu pekerjaan sterilisasi yang harus sangat diperhatikan adalah :

* Besaran nyala api.
* Tekanan uap air panas.
* Waktu pekerjaan tergantung kapasitas baglog yang disterilisasi. Dengan cara manual / sederhana berdasarkan pengalaman kami baglog uk 17/35 kapasitas 140 log waktu steril 7 jam menggunakan bahan bakar gas (menghabiskan 1 tabung gas 3 kg).

Selanjutnya, bongkar tumpukan baglog yang ada di dalam drum, angkut dan pindahkan ke ruang inokulasi untuk dilakukan pendinginan selama 1 x 24 jam. Cara pekerjaan Inokulasi lihat / baca artikel selanjuntnya.
Bila pekerjaan inokulasi selesai dikerjakan, pindahkan baglog - baglog yang sdh diisi bibit jamur ke ruang inkubasi (ruang pertumbuhan miselium di dalam baglog).

Marilah menuai sukses di bisnis jamur tiram, jangan takut gagal, karena kegagalan yg sesungguhnya adalah bila anda gagal untuk mencoba, bukan gagal setelah mencoba.

Jumat, 30 Juli 2010

BIBIT F2 JAMUR TIRAM

Kami menyediakan F2 jamur tiram media jagung yang tentunya apabila anda inokulasikan ke baglog akan cepat menyebar dan menjadi tambahan nutrisi baglog.
Harga hanya Rp.7.000/botol bisa anda inokulasikan untuk 50 baglog/lebih.

Selasa, 01 Juni 2010

Istirahat sementara

Lebih kurang 3 bulan ini kami sedang mengadakan pembangunan rumah dan kumbung di lokasi baru maka dari itu kegiatan produksi sementara istirahat, karena kami harus konsentrasi ke pembangunan. Semoga di tempat yang baru nanti bisa lebih baik. Amin...

Selasa, 02 Maret 2010

Kisah Sukses Pengusaha Jamur

Yang Makmur Karena Jamur
Walaupun bukan komoditas unggulan, bila ditekuni secara serius, usaha tani jamur dapat memberikan keuntungan yang memadai. Berikut para pelaku yang sukses berbisnis jamur.

Misa Suwarsa
Belajar Sampai ke Negeri Cina
Sejak 1990, lelaki yang pernah menjadi dosen Teknik Kimia ITB ini memutuskan serius menekuni jamur merang. “Awalnya, saya pernah ketemu dosen tamu dari Uni Eropa. Dia bilang kenapa jerami harus dibakar, padahal jika dimanfaatkan sebagai media jamur, nilai ekonominya bisa enam kali lipat besarnya,” cerita Misa.
Tersadar oleh kritik dosen tamu tersebut, Misa mulai mencoba mempelajari budidaya jamur merang. Setelah sekian lama, impiannya untuk mengenal lebih dalam tentang jamur terwujud karena pada 2004 dirinya mendapat undangan magang dari pemerintah China. Pada tahun yang sama, dia mendapatkan penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI atas baktinya mengembangkan pertanian kususnya jamur merang.
Sekarang jumlah kumbungnya ada 20 unit. Rata-rata produksi jamur merangnya sekitar 400—500 kg per kumbung. Dengan harga jual saat ini yang berkisar Rp10.000—Rp12.000 per kilo, dalam satu siklus satu kumbungnya mampu menghasilkan Rp6 juta. Itu belum termasuk hasil yang masuk kelas BS.
Saat ditanya apa rahasianya, Misa hanya menjawab, kuncinya pada styrofoam, kelembapan, dan suhu. Memang bila diperhatikan, kumbungnya berbeda dari kumbung milik petani jamur merang pada umumnya. Kumbung jamur bapak satu anak ini terbuat dari styrofoam, bukan dari bambu. “Styrofoam dapat menahan panas sehingga suhu optimum kumbung pada kisaran 32o—34oC dengan kelembapan 95%--98% dapat tetap terjaga,” bebernya
Misa juga mengingatkan, saat proses fermentasi media, harus dipastikan kadar pH-nya dan jenis bahan yang digunakan. Fermentasi media yang sempurna menentukan 50% keberhasilan tumbuhnya jamur merang. Sedangkan 50% nya lagi ditentukan dari kualitas bibit yang digunakan.
Karena kesuksesannya di bidang jamur, sejak tahun 2000 pemerintah mempercayai Misa untuk menyelenggarakan pelatihan jamur merang. Setahun sekali, tiap daerah mengirimkan wakilnya untuk belajar di tempatnya. Selain itu lelaki 48 tahun ini juga memproduksi bibit jamur merang dan ia berani mengklaim bahwa bibitnya terbuat dari F nol.

Jemy Susanto
Patahkan Teori
Lazimnya jamur tiram tumbuh subur pada daerah dataran tinggi. Namun Jemy Susanto mencoba membudidayakanya di Solo yang merupakan daerah panas. Mula-mula banyak yang tidak yakin dengan apa yang dilakukan Jemy, begitu biasa dia disapa. Tapi dengan tekat kuat dan rasa optimis, ia maju terus. “Semua daerah sebenarnya bisa, tinggal bagaimana pintar-pintar kita memodifikasi tempat tumbuh jamur, terutama dalam hal kelembapan,” terangnya
Selama ini daerah Solo mengandalkan pasokan jamur tiram dari daerah lain. Karena itu kalau ia bisa mengembangkan jamur ini di Solo, maka harganya bisa ditekan. Konsumen pun lebih banyak yang menjangkaunya.
Jemy memilih jamur tiram karena menurutnya jamur tiram mudah dibubidayakan. Perbandingan kelayakan usahanya pun tertinggi dibandingkan jenis jamur lain. Untuk itu sejak 2,5 tahun lalu, ia mendirikan PT Agro Jamur Lestari yang memfokuskan diri pada pembuatan bibit dan baglog. Kapasitas produksi bibitnya saat ini mencapai 1.000 botol per hari atau lebih bergantung pesanan.
Saat ditanya tentang kemampuan bibitnya, pria berkaca mata ini menuturkan, tiap botol bibitnya oleh petani biasanya diturunkan lagi menjadi 50 botol F3, setelah itu baru dapat diaplikasikan ke 2.000 baglog. Sejauh ini bibit buatanya sudah banyak digunakan tidak hanya petani jamur tiram di Solo, tapi sudah merambah ke Palembang, Samarinda, Riau, Timika, dan kota–kota di Jawa.
Bapak satu anak ini menawarkan sistem kemitraan kepada petani dan membaginya menjadi tiga kategori kemitraan. Kemitraan Berdikari, yaitu petani hanya membeli bibit saja; Kemitraan Bagi Hasil 70 : 30 untuk pembelian baglog dengan harga spesial untuk petani di Jawa; Yang terakhir Jemy siap melakukan presentasi dan petihan di daerah mana saja.

Ir. NS Adiyuwono
Siasati Pasar Agar Tetap Bertahan
Walaupun baru empat tahun memulai usaha jamur di Ciwidey, tapi saat ini perusahaan jamur Sinapeul milik Adiyuwono mampu meraih omzet Rp20 jutaan per minggu. Perusahaan jamur yang berlokasi di Bandung Selatan ini, selain menghasilkan 600-700 kg jamur tiram dan kuping per hari, juga memproduksi sekitar 100 ribu baglog/bulan dan 30.000 botol bibit/bulan. Baglog buatannya sekarang banyak digunakan petani asal Bogor, Cikole, Cisarua, Banjaran dan daerah sekitar Bandung. Sedangkan pemasaran bibitnya kini telah menjangkau Aceh, Medan, Riau, Solo, dan Surabaya
Menurut Adi Yuwono, keberhasilannya itu karena ditunjang dengan komitmen untuk tetap membudidayakan jamur dalam kondisi organik. “Kalau organik ‘kan harganya tinggi, nah dari situ ‘kan marjin sudah terbayarkan,” terang pria yang mengaku bermodal awal Rp100 jutaan ini
Adi juga mengingatkan, masalah pengemasan yang sangat berkaitan dengan tingkat kesegaran jamur. Ia mencontohkan pada jamur tiram. Dahulu semua dikemas dalam ukuran 20 kg tapi sekarang hanya dibungkus dalam ukuran 5 kg atau 2 kg saja. Ternyata pengemasan dalam ukuran kecil dapat menjaga kesegaran dan kualitas jamur. Selain itu juga dapat menekan angka kehilangan saat pendistribusian yang mencapai 5%—20% jika menggunakan kemasan besar.
Hal lain yang menjadi penentu kesuksesannya bertahan di bisnis jamur adalah inovasi. Perusahaannya sekarang sedang mengembangkan pembuatan jamur kuping dalam bentuk serbuk, “Jadi selain segar dan kering, sekarang kita coba pasarkan dalam bentuk serbuk karena kalau dalam bentuk bubuk mereka lebih mudah mengolahnya,“ ungkap pengusaha yang kebunnya berada di 8 lokasi terpisah ini.